Manjakan Diri di Kenari Asri

Januari 15, 2008
102_1931.jpgJalan-jalan di Kota Kudus, belum lengkap rasanya jika tidak menyempatkan diri mampir di Jalan Kenari, tepatnya di Dragon Palace Restoran. Karena restoran yang dilengkapi dengan hotel dan café ini, mempunyai beraneka ragam masakan khas Chinese yang mengundang selera.
Mulai dari Soup Ala Canton, Nasi Goreng Ikan Asin, Udang Mayonaise dengan Wijen, Ayam Goreng ala Dragon, Gurami sari buah, Brokoli cahseafood dan masih banyak lagi aneka masakan yang dapat dinikmati di sini.
Selain paket menu biasa (harian), Dragon Palace Restauran juga menyediakan paket ulang tahun dan pernikahan. Harganya bervariasi. Mulai dari Rp. 37.500/pax sampai 50.000/pax. Anda juga bisa pesan yang per meja untuk sepuluh orang.
Jika ingin bersantai ria, setiap malam Jum’at, Anda bisa menikmati Live Musik. Belum puas menikmati restoran khas Chinese, di sini juga disediakan kamar untuk menginap. Selain tempatnya yang bersih dan nyaman, lokasinya juga tidak terlalu berdekatan dengan ramainya kendaraan bermotor.
Restoran yang beralamat di Jl. Kenari No. 02 Kudus ini dikelola langsung oleh Anwar General Manajer. Untuk pemesanan, anda bisa datang langsung ke hotel atau melalui via telephone 0291-446200. fasilitas yang akan anda dapatkan, mulai Restauran, Café, Function Room, Car Rental, Air Ticketing, Laundry dan Room Service. Anda penasaran? datang aja langsung ke Hotel Kenari Asri dan Restauran. Buruan …!
Nasrur/IK

Panti Sosial Bina Netra Pendowo Kudus

Januari 15, 2008

Memupuk Harapan yang Nyaris Kandas

Terlahir cacat memang tidak menyenangkan. Namun itu tidak harus menjadi alasan larut dalam kesedihan. Karena harapan untuk mewujudkan impian dan cita – cita, tetap terbuka lebar.

picture-018.jpgMemasuki halaman Panti Tuna Netra dan Tuna Rungu Wicara (PTN & TRW) Pendowo Kudus, suasana nampak sepi. Hanya beberapa pegawai yang berseliweran dan dua orang yang saat itu lagi duduk – duduk di pos penjagaan.
Maklum, karena siang itu, Kamis (19/4) saat INFO KUDUS (IK) bertandang, para siswa panti sedang makan siang bersama. Saat IK diajak melihat – lihat di ruang makan panti tersebut, nampak para siswa sedang menikmati masakan ala kadarnya. Mereka duduk berjajar. Di sebelah barat ruangan, duduk berjajar murid Tuna Netra. Sementara di sebelah timur, murid Tuna Rungu.
Sesekali, gelak tawa mereka terdengar, menimpali sendau gurau kawan- kawannya yang terdengar kocak saat bercanda. Televisi 14 inchi di ruangan itu, juga menjadi teman setia mereka saat makan dan istirahat.
Usai makan, mereka tuna-netra-021.jpgmembaca do’a bersama, sebagai ucapan syukur pada Tuhan atas nikmat yang telah diberikannya. Setelah itu, sekelompok siswa membersihkan ruang makan. Sebagian lain nampak membawa piring dan alas makan yang lain untuk dicuci.
“Meski Tuna Netra dan Tuna Rungu, mereka tetap harus belajar berdidiplin, bergotong royong, membagi tugas dan saling membantu,” kata Anna Setyowati S.Sos, pegawai urusan penyantun yang saat itu mendampingi IK.

Serba – serbi Panti
tuna-netra-013.jpgKeberadaan PTN & TRW Pendowo Kudus yang beralamat di Jalan Pendowo No.10 Mlati Lor, ternyata memberi harapan tersendiri bagi para penyandang Tuna Netra dan Tuna Rungu. Tidak hanya di Kudus, juga para penyandang cacat serupa dari berbagai kota atau kabupaten di negeri ini. Paling tidak, itulah yang dirasakan Rasyidi, salah seorang siswa Tuna Netra yang berasal dari Demak.
Lelaki kelahiran Jatisono, Gajah, Demak 30 tahun silam ini, merasa beruntung karena bisa belajar di Pendowo. “Saya sangat bersyukur bisa belajar di sini. Kalau di rumah, pasti saya cuma bisa bengong. Di sini banyak teman, bisa belajar, terutama belajar pijat untuk masa depan saya,” katanya.
Saat ini, lanjut laki – laki yang sebenarnya bercita – cita menjadi atlet Tolak Peluru, Saya menekuni pijat, sebagai bekal mencari rizki setelah lulus dari sini. “Meski buta, saya nggak bisa bergantung dengan orang lain terus – menerus.”
Tidak hanya Rasyidi. Perasaan yang sama dikemukakan Muallifah, penghuni panti asal Colo Kudus. Ia yang baru setengah tahun belajar di panti, merasa senang karena mempunyai banyak teman di sini. “Di sini saya banyak teman yang bisa diajak bercanda,” ungkapnya.
Gadis yang berperawakan manis ini, meski tuna-netra-003.jpgsebenarnya tidak mengalami Tuna Netra maupun Tuna Rungu, namun oleh salah seorang anggota keluarganya dititipkan di Panti ini. “Daya berpikirnya jauh di bawah rata – rata orang normal. Makanya ia ditaruh di sini,” kata salah seorang pegawai.
Meski kebanyakan penghuni panti mengaku senang tinggal di panti Pendowo ini, namun ada juga yang kurang menikmati rasa kekeluargaan yang terbina. “Tidak semangat. Semangatnya kalau sore saja. Nyanyi – nyanyi,” ujar Noor Shodiq, penghuni panti asal Limbangan, Kendal.
Namun, setelah ditanya lebih jauh, ternyata diakui bahwa ia baru beberapa bulan tinggal dan belajar di panti. Yaitu sejak Januari 2007 lalu.
Rasa kekeluargaan yang ada di Pendowo, ternyata menjadi sesuatu yang menjadikan para penghuninya kerasan, disamping alasan lain yang dimiliki masing – masing penghuni panti.
Darmi dan Sumi’ah, misalnya. Dua ibu ini merasa sangat senang karena bisa membantu anak – anak panti. “Di sini gajinya besar. Gajinya pahala. Nanti kalau di akhirat,” kata mereka berkelakar.

Ramah dan Sabar
Apa yang menjadikan para penghuni Panti merasa nyaman dan betah? “Bapak dan Ibu guru dan pembimbingnya baik dan sabar,” ujar Rasyidi. Penilaian serupa dikemukakan teman – temannya saat ditanyai IK tentang kesannya tinggal di Pendowo.
Keramahan dan kesabaran para pembimbing itulah, yang rupanya membuat mereka para penghuni Panti nyaman. Selain ilmu dan ketrampilan lain bagi masa depan mereka tentunya.
Masalah keramahan dan kesabaran para pembimbing di panti, ternyata menjadi syarat mutlak yang harus dimiliki para pegawai. “Ya, kami di sini harus sabar dan bertindak seramah mungkin terhadap anak – anak. Agar mereka kerasan. Karena kita menghadapi orang yang tidak biasa, tetapi orang – orang yang memiliki kelemahan secara fisik,” tutur Chasanatin, SH. kepada IK yang dibenarkan, yang didampingi Anna Setyowati S.Sos.
Ya, keramahan dan kesabaran itulah, yang ditanamkan para Bapak dan Ibu pembimbing di Panti, sebagai bekal mengarungi hidup selepas dari Panti. “Keramahan dan kesabaran itu pula yang memupuk harapan orang – orang kurang beruntung itu yang nyaris kandas, karena keadaan,” terang Chasanatin.
(Eros, NasrurIK)

Sebuah Kritik dari “Acehku Aceh”

Januari 15, 2008

Acehku aceh, acehku aceh, acehku di mana-mana …
Bantuan datang, bantuan datang
Bantuan datang dari mana-mana
Bantuan datang, bantuan datang
Bantuan sudah datang di sana …

picture-068.jpgDemikian penggalan puisi karya Thomas Budi Santoso, yang kemudian digubah menjadi naskah teatrikal oleh Leo Katarsis, yang dipentaskan di Gor Djarum Kaliputu Kudus, dalam rangka HUT Djarum ke – 56, Jum’at (20/4).
Instalasi perahu, lampu warna-warni menghias panggung berukuran 7 x 6 m. Tarian ala aceh hadir sebagai pembuka, dilanjutkan dengan pembaca puisi oleh tiga begawan penyair Kudus Yudhi MS, Asa Jatmiko dan Jumari HS.picture-071.jpg
Tak lama berselang, lampu padam. Gelap. Hanya iklan Djarum yang terlihat di kanan – kiri panggung. Tepat sepuluh menit kemudian, penataan panggung selesai. Teriakan dari balik panggung, menggema. Kembali tarian ala aceh disuguhkan. Panggung menjadi lebih berwarna, setelah lighting dinyalakan. Dan, pementasan teatrikal Acehku Aceh, dimulai.
Seseorang dengan langkah tersuruk-suruk, melintas. Dengan sepucuk pelita di tangan, dia menghampiri wajah-wajah kosong tak berjiwa, sambil melantunkan tembang manyayat yang terus diulang-ulang.
picture-096.jpgHening. Tegang. Penonton terpukau. Hanyut dalam perasaan masing – masing, mencoba menafsirkan makna pementasan dalam hati. Para Wartawan dan fotografer, tak mau ketinggalan momen. Mereka memasang ancang – ancang, dan … Cepret, cepret, cepret. Mereka mengambil gambar dari berbagai angel.
“Teatrikal ini bercerita tentang bencana di aceh, dan menyindir moral bangsa. Di mana setiap kali ada bencana, bantuan yang datang sangat banyak, tapi jarang sekali sampai pada tangan korban,” tutur Pimpinan Produksi Jumari HS. kepada INFO KUDUS usai pementasan.
(nasrur/IK)