Cacat bukan Akhir Segalanya

Baru – baru ini, Indonesia kedatangan tamu seorang pilot buta dari Inggris, Miles Hilton Barber. Ia adalah pilot buta pertama di dunia, yang melakukan penerbangan melewati kawasan udara Eropa, Timur Tengah, Pakistan, India, Myanmar, Malaysia, Indonesia, Darwin dan berakhir di Sydney Australia.
Kemampuannya “terbang”,  itu seakan menjadi “wejangan tersendiri” bagi para penyandang cacat, apapun, bahwa tidak seharusnya cacat yang dialami, membuat patah semangat. Meski cacat, seseorang masih bisa melakukan sesuatu yang berguna bagi masyarakat.
Miles, misalnya. Misi penerbangannya ke berbagai Negara ialah dalam rangka menggalang dana untuk disumbangkan bagi penyandang Tuna Netra di dunia. Dengan kemampuannya menerbangkan pesawat, ia juga mengampanyekan kepada khalayak, cacat fisik hendaknya tidak menjadi penghalang seseorang meraih cita – cita dan berkreatifitas.
Apa yang dilakukan Miles, sudah seharusnya menjadi pelajaran bagi para penyandang cacat. Buta, tuli, bisu, tak punya kaki, tak punya tangan dan lain sebagainya, adalah cobaan yang tidak seharusnya mematahkan semangat mereka dalam menggapai cita – cita.
Agar para penyandang cacat juga tidak menjadi orang yang bodoh, bisa berkreatifitas dan sedapat mungkin mengembangkan minat dan bakatnya, pemerintah pun telah mendirikan lembaga pendidikan – lembaga pendidikan bagi orang cacat.
Di Jawa Tengah, lembaga pendidikan bagi penyandang cacat yang berada ditangani Dinas Sosial adalah Panti Tuna Netra dan Tuna Rungu Wicara (PTN & TRW) Pendowo (Kudus), PTN & TRW Distrarasta (Pemalang), PTN & TRW Penganthi (Temanggung), PTN & TRW Bhakti Candrasa (Surakarta), PTN & TRW Dharma Putra (Purworejo), Panti Tuna Grahita Raharjo (Sragen), Panti Tuna Laras Ngudi Rahayu (Kendal) dan Panti Tuna Laras Pangrukti Mulyo (Rembang).
Berbagai lembaga pendidikan bagi penyandang cacat itu, adalah wujud nyata kepedulian pemerintah dalam rangka menyejahterakan rakyatnya di bidang pendidikan tanpa pandang bulu.
Untuk itu, bagi masyarakat yang mempunyai keluarga yang terlahir cacat, sudah seharusnya menggunakan kesempatan baik itu untuk memberikan kesempatan kepada anggota keluarganya yang cacat agar tetap bisa belajar.
Satu catatan, jangan sampai keluarga merasa malu menyerahkan anggota keluarganya yang cacat untuk dididik di panti – panti sosial itu, hanya karena alasan malu, misalnya. Karena rasa malu itu sama artinya membunuh kreatifitas dan bakat orang – orang kurang beruntung itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: