Mengabdi untuk Tuna Netra

Mardjuki

picture-002.jpgRumah sederhana di Desa Krandon Rt. 01 Rw. 03 Kajan Sumur Tulak Kudus itu, nampak asri. Rimbunnya daun pohon mangga di halaman rumahnya, menambah suasana nyaman dan tenang.
Mardjuki, dialah pemilik rumah itu. Seorang Pegawai Panti Tuna Netra dan Tuna Rungu Wicara Pendowo Kudus, yang sedang bersantai saat INFO KUDUS menyambangi rumahnya.
“Sibuk apa, Pak?” tanya INFO KUDUS basa basi. “Santai aja, mas. ngilangke kesel,” ujar lelaki kelahiran Pemalang 9 Agustus 1952 ini. Pembicaraaan pun berlanjut mengenai kisah hidupnya hingga menjadi warga kudus.
Ayah tujuh anak ini pun, mencoba mengingat lembaran masa silamnya, sewaktu masih hidup di Pemalang. Di mana sejak kecil, ia memang sudah terbiasa menghadapi para penderita tuna netra, karena rumahnya berdekatan dengan panti Tuna Netra.
Alumni Sekolah Menengah Olah Raga Atas (SMOA) Negara Tegal ini, adalah lelaki yang sangat gigih. Waktu kecil, suami Chasanah ini harus naik kereta api Pemalang – Tegal setiap hari untuk sekolah. Dengan sepuluh rupiah, ia menggunakan karcis abondemen selama satu bulan. Dan untuk menuju stasiun, ia harus berjalan kaki kurang lebih satu jam lamanya.
Selepas dari SMOA, ia bekerja sebagai tukang masak di sebuah kapal. Selama lebih kurang 1,5 bekerja sebagai juru masak itu, ia pernah mengikuti pelayaran ke Kanada, Makau, Hongkong, Filipina dan Thailand.
Tahun 1968 -1969, ia magang di Inspeksi Sosial Republik Indonesia (ISORI) Provinsi Jambi melayani Suku Kubu. Karena keadaan dan suasana yang kurang nyaman, putra dari pasangan Karnadi dan Carmah ini pulang kampung. Tahun 1970, ia diterima di panti Tuna Netra Cepu. Setahun kemudian (1971) ia dipindah di Panti Tuna Netra Kudus, yang saat itu masih bernama Pusat Pendidikan Pengajaran dan Kegunaan Tuna Netra (P3KT).
Sebelum diterima di P3KT, ia sudah menguasai beberapa keahlian Tuna Netra, termasuk membaca huruf Braille, Normalisasi (OM) dan beberapa keahlian lain. Jadi, bukan kebetulan kiranya kalau ia kemudian bekerja di lembaga pendidikan Tuna Netra dan Tuna Rungu.
Kenapa memilih menjadi pegawai tuna netra? “Saya ingin sekali memberikan ketrampilan kepada Tuna Netra, Khusus Tuna Netra lho mas, bukan tuna rungu. Saya kasihan dan bahkan ikut merasa sakit ketika melihat tuna netra dikasihani secara materi saja. Saya ingin para tuna netra bisa mandiri dan dapat menghidupi keluarga dari jerih payahnya sendiri,” tuturnya.
Di Pendowo, Mardjuki sebagai konsultan massagge. Selain itu, ia juga mengajar baca tulis Braille, bimbingan normalisasi, menolong diri dan keberanian diri.
Meski berat dan harus penuh kesabaran, namun Mardjuki senang dan menikmati menjadi pengajar di Pendowo. Ia tidak pernah risau, bahkan mengenai gaji. Hanya satu yang membuatnya risau, yaitu ketika anak didiknya malas belajar. “Saya ingin  melihat anak – anak sukses dan tidak bergantung dengan orang lain, meski mereka Tuna Netra,” tandanya. (Nasrur/IK)

1 Comment »

  1. Apapun dapat diraih asal ada tekad dan kemauan keras, meski kita tunanetra!
    Hidup tunanetra!!🙂


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: