Telephone

Fajar pagi baru usai, tetes embun mulai sirna saat mentari mencoba menyibak cakrawala dengan semburat sinarnya. Ujung dedaunan dan ilalang masih menyisakan lamur. Kicauan burung yang hanya tersisa satu dua mencoba merangkai lagu pagi di bagian utara lereng Muria. Para perempuan kaki gunung mulai mengentaskan tubuh basahnya dari beku air belik. Para lelaki terhanyut menanti dalam katup pekat asap tembakau, untuk mengawali hari.
Hanya Laila telah setahun yang lalu tak mendapati lelakinya menanti saat-saat usai pagi dari pemandian. Sang lelaki yang telah diabadikan takdir dalam kenangan. Sang lelaki yang tak mampu menyempurnakan janji perjalanan bersama belahan jiwa. Sang lelaki yang hanya meninggalkan generasinya. Sang lelaki yang hanya meninggali Laila sebidang tanah dan seorang anak lelaki sebagai keluarga.
Waktu hanya bertugas melaju, membingkai Laila dalam kerudung duka. Setahun sudah.
Tiga kehidupan yang sepi mencoba bertahan dalam sunyi.
Berat tentunya beban yang harus dipikul Laila sebagai wanita yang juga harus mengambil posisi sebagai bapak untuk anak semata wayangnya. Ia mencoba tertatih dalam maskulinitas dan feminisme untuk menyelimuti kegelisahan psikis anaknya yang menginjak akil baligh. Belum lagi pukulan akan kebutuhan sehari-hari yang terasa mendera dalam batinnya.
Pagi itu, matahari telah menapak satu tombak di atas kaki langit. Udara tampak cerah matahari terang langit bersisik awan putih. Laila termenung bisu dalam genangan pikirannya akan sepucuk surat yang kemarin ia terima dari kampung halamannya. Sebuah surat dari keluarga yang memberikan siluet cahaya untuknya. Sebuah penawaran baginya untuk bekerja pada sebuah usaha ternak yang dikelola pamannya di tanah Pasundan.
Wanita itu masih duduk merenung, ada terlintas sebuah keinginan untuk segera menggapai cahaya, demi untuk menepis bayang-bayang hitam yang pasti meluncur dalam hari-hari Laila. Bayang hitam tentang perihnya hidup dalam pundak seorang wanita, bayang hitam tentang masa depan Budi sang anak semata wayangnya.
“ Aku harus berdiri, lepas dari indahnya tidur siang ini”, sergah Laila dalam hati.
Wanita itu berbinar matanya, menatap mimpi.
Dihampirinya ibu mertuanya yang terkulum oleh asap tebal menyeruak dari bibir tungku yang telah sesak oleh batang-batang ranting kering. Sejenak ia dan mertuanya larut dalam hiruk pikuk perbincangan yang memapah sebuah tujuan. Tujuan Laila untuk mengubah nasib dan masa depan anaknya. Diutarakannya hasrat meninggalkan aroma sepi kaki gunung untuk bergegas ke negeri kelahirannya. Entah kemiskinan atau gambaran hitam tentang masa depan, yang jelas sang ibu mertua pun tak kuasa untuk menahan keinginan Laila.
Dua wanita terdiam dalam masing-masing gambaran dalam benaknya, mereka dijilati lidah api yang sesekali muntah dari bibir tungku.
Matahari telah berjalan melahap lebih setengah hari, mengantar langkah Laila kembali ke rumah setelah sesaat yang lalu ia pergi untuk mencari kebutuhan dan perlengkapan dalam perjalananya nanti. Segera ia bergabung dengan anak dan mertuanya yang telah khidmat dalam perjamuan makan siang di atas meja dan kursi-kursi tua.  Asap tipis masih mengepul dari sela-sela sajian siang itu.
Tiga kehidupan larut dalam renyah canda tawa.
Seperti halnya sang nenek, Budi pun mengiyakan kehendak sang bunda untuk bergegas sesaat dari kehidupan mereka. Terlebih siang itu, Budi menerima hadiah sebuah ponsel dari sang bunda. Telephon genggam itu memang sengaja Laila belikan khusus untuk mata hatinya agar saat sepeninggalnya ia mudah untuk menghubunginya. Tentunya jika saling tercipta kerinduan antara mereka mudah untuk bertukar kabar.
Matahari menciptakan bayang sepanjang pembayang.
Laila menjadi perempuan yang beringas dibibir mimpi, ia tak mau menunggu esok atau lusa. Sore itu juga ia segera berhambur bersama debu dan angin menuju ke kota yang akan mengantarkannya menuju negeri impian. Setelah dalam singkat prosesi perpisahan dengan ibu mertua dan anaknya, Laila menapakkan kakinya di bibir bus antar kota dalam propinsi. Ia segera berhambur dengan penumpang lainnya, dan mimpinya pun serasa di depan mata.
Ada setitik sembab dan cahaya dari mata Budi, senja itu.
Lelaki kecil itu kini untuk sementara waktu tak mendapati sang bunda dalam dekapannya. Panjang jalan telah menelan kedamaian baginya. Namun ada teduh saat ditatap barang mungil digenggamanya. Ia teringat kata terakhir dari sang bunda saat perpisahan sore tadi. “nak, Ibu akan menelphonmu kalau sudah sampai rumah kakekmu”, begitulah kalimat indah dari sang ibu yang masih diingatnya jelas.
#
Malam berjalan sepenggal, menghapuskan sisa-sisa semburat lembayung senja. Ada perjamuan malam yang terbatalkan malam ini. Bocah kecil di kaki gunung tak menyambangi meja makan malam ini.
Bulan setengah lingkaran dan kerling nakal cahaya bintang masih setia mengawal perjalanan bus yang ditumpangi Laila menyusuri lorong-lorong hitam kota dan hutan. Suara bus yang menderum laksana monster malam seakan tak mengusik dengkur tipis yang malu-malu dari setiap jok yang dibawanya. Ia melenggang menembus koridor gelap malam berpacu dengan angin dan harapan penumpangnya.
#
Bocah kecil di kaki gunung masih terjaga, meski malam hampir menelan separo perjalanannya. Ada segumpal rindu mulai hinggap yang menirakan kantuk dan dongeng-dongeng sang nenek. Digenggamnya posel itu dan mengharap pagi segera tiba untuk ia dengar suara sang bunda.
#
Malam terus merayap, perjalanannya hendak merengkuh didnding pagi. Dingin beku udara bercampur embun seakan menjadi baluran setiap mimpi. Laiala terkejut dan seakan tak mempu meraih kesadaranya secara sempurna saat tubuhnya membentur jok di depannya. Sekilas terdengar ngeri gesekan antara karet ban dari roda bus dengan permukaan aspal.
Sesaat kemudian ia mendapati sisi bus dalam keadaan yang setengah koyak, beberapa tas bawaan dari para penumpang berserak di bawah jok. Begitupun beberapa penumpang terhambur kesamping dan lepas dari tempat duduknya. Dilihatnya kedepan, kaca depan bus telah ambyar tak tersisa. Moncong bus telah tersangkut pada ekor truk didepanya. Untunglah tak ada yang terluka. Namun perjalanan tampaknya tak bisa cepat dilanjutkan. Karena jalur di depan tersumbat tubuh truk yang ringsek karena terjepit dua kendaraan lainya.
#
Embun yang semakin deras menetes menandakan pagi telah jelma. Bocah kecil di kaki gunung tak sempat memejamkan matanya. Tidurnya tergadai oleh rindu yang tak mampu ia terjemahkan. Ia hanya berharap dan menunggu pada suara teduh sang bunda.
#
Perjalanan yang tersita membuat penat dan letih pada setiap pelakunya. Matahari telah mendaratkan sinarnya pas di atas kepala. Sayup-sayup adzan dzuhur yang beradu dengan gegap musik dangdut menyeruak ke telinga Laila saat bus yang ditumpanginya memasuki terminal kota tujuanya. Ia segera mengalungkan langkahnya menuju sebuah musholla untuk sekedar menunaikan kewajiban dan mengasokan tubuhnya yang semalam tadi hanya terpasung di jok bus. Sejenak bekalnya diperiksa, sambil mengisi waktu saat ia mengaso. Betapa terkejutnya ketika ia tak mendapati dompet kecil tempat ia menyimpan sejumlah uang untuk bekal perjalanan dan hari-hari pertama ia kerja nanti. Pikirannya kalut dan serasa tak ada ruang yang tersisa untuk sekedar pergantian udara. Untunglah ia menyisakan beberapa lembar uang ribuan yang tentunya cukup untuk melanjutkan perjalanannya. Ia segera menghambur ke angkot yang menuju ke desa tempat ia di lahirkanya dulu. Tak mau ia berlama-lama menikmati kegalauan yang pasti takkan ada jawaban.
#
Matahari menyisir langit hampir satu bentang, langkahnya mulai dihiasi cahaya lembayung. Tentunya sebentar lagi senja menjelma di kaki langit. Bocah laki-laki kecil terkulai lemah dipembaringan, menggenggam harapan dalam ponsel. Tak sesuap nasipun mampu mengoyak mulutnya yang bisu oleh harapan dan rindu. Sang nenek dalam gundah setia menemani dengan ribuan dongeng yang tak mampu memecah kebisuan sang cucu. Bocah lelaki hanya menunggu dan terus   menunggu di sisa-sisa semangatnya.
#
Gelap malam kembali menghardik bumi, mengisahkan penantian bagi setiap yang ditinggalkan. Lalia telah menopangkan tubuhnya diperaduan setelah sore tadi menghabiskan waktu bersama keluarga lamanya di kampung halaman. Dalam balut dongeng pasundan matanya terpejam rejam, mencoba melepas penat letih perjalanan. Karena lelah pun cerita akan bocah lelaki yang ia tinggalkan di kaki gunung tak mampu mengusik lelapnya. Ia terlelap tanpa mimpi mengejar datangnya pagi.
#
Malam telah mengisahkan malam yang lalu, embun pun telah menetes pada bekas tetesan embun yang kemarin. Lelaki kecil di kaki gunung yang masih menjadi bocah merindu. Menunggu hasratya terjawab, dalam balut tubuh yang tanpa energi. Dingin tak menciptakan gigil baginya. Dalam lunglainya ia tetap menunggu dan menunggu. Sang nenek yang gelisah mendura ditepi pembaringan, matanya berkilat-kilat seperti lidah api. Sesekali ia menyeka air matanya.
Tanpa menunggu komando orkestra kokok ayam jantan mulai menanda pada malam kalau fajar telah memanggil matahari pagi. Sang bocah semakin melemah dalam pembaringan, namun matanya masih kuat mengisyaratkan harapan. Bilik kecilnya telah pikuk dipadati kerabatnya yang datang untuk sekedar menebar rayu dan pengertian pada sang bocah, Semuanya membentur batu. Si bocah tetap terdiam tanpa daya, hanya ada tersisa semangat dimatanya.
#
Sengat mentari pagi mengejutkan Laila, saat-saat seperti ini biasanya ia melepas sang buah hati melangkah kesekolah. Ia juga teringat kalau ia janji akan menelphonnya saat ia telah menginjak tanah tujuan. “Oh, maafkan ibumu nak. Kalau membuatmu sejenak menunggu. Perjalanan ibu tak selancar yang engkau bayangkan,” kata Laila dalam hati.  Ia segera bergegas menuju warung telephone umum terdekat. Untunglah masih ada satu kabin yang kosong. Ia segera menekan barisan digit angka yang sengaja ia hafalkan. Sesaat ada suara berdenyut panjang pertanda panggilan telah disampaikan ketujuan.
Ada suara, klek… lirih terdengar suara bocah kecil di seberang signal. “Halo, ini pasti ibu ya? Jelas suara budi menyeruak namun terasa terdengar pelan dan lemah. “Iya nak, ini ibumu. Bagaimana keadaanmu nak? Tentunya engkau sudah sarapan pagi ini ya…,” Laila terus saja menyerocos, namun ia sejenak tercengang karena tak mendapatkan jawaban. Ada suara seperti terbanting di ikuti langkah-langkah kaki dan teriakan teriakan histeris yang memanggil-manggil Budi. Terdengar juga suara serak ibu mertuanya, “Nak, jangan tinggalkan nenekmu ini, tunggu sampai esok pasti ibumu pulang.” Semuanya menjadi gelap dan tak ada yang bisa di ingat oleh Laila.
#
Harum bunga kamboja yang baru mekar, dan sisa-sisa aroma tanah basah oleh embun. Laila kembali berkerudung hitam tak mampu menyeka air matanya. Ia terpekur dalam gigil beku kedukaanya. Tanganya merangkul dua nisan suami dan anaknya.

Kudus,10 February 2007.
Saliem N Muhammad, Lahir di Kudus, 31 Desember 1979. Tinggal di Desa Golantepus No. 230 Mejobo Kudus. Aktif di Kelompok Belajar Sastra Eja, Sanggar Kahanan dan Pendiri Galantri Art Community. Sering menulis Naskah Drama, Puisi dan Cerpen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: