PEMULUNG DI LARANG MASUK

Oleh: Titik Indriyana

Kuambil pakaian dinas lapanganku. Aku hanya punya dua stel. Jika yang satu dicuci, aku mengenakan yang satunya lagi. Jangan bayangkan jas dan dasi. Pakaian dinasku Cuma selembar kaos oblong lusuh pemberian sebuah partai saat musim kampanye dulu, dipadu dengan celana butut sedikit di bawah lutut.
Sebagai pengganti tas, sebuah karung goni bekas kusampir di pundak kiri. Tangan kananku memegang sebatang tongkat besi untuk mengaduk-aduk sampah. Tak lupa kupasang topi untuk menutupi sebagian wajahku.
Ya! Siapa lagi aku kalau bukan pemulung. Hanya pemulung yang membawa karung dan tongkat ketika bekerja, mengais sampah-sampah perumahan.
Tapi orang lebih sering membayangkan aku sebagai maling, bukan pemulung. Sakit rasanya. Tiap kakiku memasuki perumahan, mata-mata selalu menguntitku, takut-takut aku mencuri barang-barang milik mereka. Aku dapat merasakannya. Mata-mata itu dari dalam rumah mengawasi jemuraan dan barang-barang lain yang berada di  luar rumah.
Kutahan rasa sakit itu. Istri dan anak-anakku harus makan. Aku harus mengumpulkan barang-barang bekas untuk kujual kepada pengumpul agar dapat uang. Persetan dengan mata-mata itu. Terkadang tak hanya rasa sakit, perasaan malu juga seringkali muncul. Aku malu menjadi pemulung. Itu kenapa aku mengenakan topi.
Seingatku, saat masih kecil dulu, aku tak pernah bercita-cita menjadi pemulung. Aku inign menjadi dokter. Kata mamak, dokter uangnya banyak, bisa menolong orang, dan dapat pahala. Hm.. kadang aku tersenyum sendiri jika mengingatnya. Cita-citaku bahkan sama dengan  cita-cita anak majikan mamak. Anak miskin bisa memiliki cita –cita yang sama dengan anak orang kaya. Sayangnya hingga besar, aku tetap  saja miskin. Bahkan hingga menikah dengan istriku, Maimunah, dan memiliki tiga orang anak, aku tetap saja miskin. Walaupun demikian aku tak pernah patah semangat. Aku yakin suatu saat nanti Allah akan mengabulkan doaku menjadi orang kaya.
Setelah semua siap, aku bergegas melangkah memasuki sebuah perumahan. Perumahan ini hanya memiliki satu pintu masuk. Semua aktivitas keluar masuk di lakukan di sini. Akupun harus melewatinya jika ingin masuk, melewati dua orang satpam yang tak pernah kutatap langsung wajahnya.
Aku terus saja melangkah mendekati sebuah rumah.
Rumah pertama. Tong sampah kubuka. Dan uhugh… gusti Allah, baunyaaa…. Kuaduk-aduk isi tong sampah, berharap ada botol, kaleng, atau kardus bekas. Semakin kuaduk baunya semakin menyengat. Dan ternyata? Nihil! Semua sampah makanan.
Aku beringsut menuju rumah kedua. Tong sampah kedua. Kubuka, kuaduk-aduk. Nihil! Barang-barang itu tak juga kujumpai. Hanya makanan sisa yang mulai berbau. Serta lalat-lalat terbang merubung, sesekali mengitari wajahku sambil mengejek. Lalat-lalat itu tentu senang mendapat banyak makanan.
Kututup kembali tong sampah setelah kuaduk-aduk isinya. Kupastikan tak ada sampah yang tercecer. Aku berlalu dan lalat-lalat itu kembali berpesta dengan sisa-sisa makanan.
Rumah ketiga. Tong sampah ketiga. Entah ada berapa rumah di sini, aku tak pernah menghitungnya. Yang jelas banyak, besar-besar, tinggi-tinggi, bersih-bersih, sepi. Mobil-mobil berserakan di depan rumah, sepeda motor, bunga-bunga, ah… mataku silau.
Tong sampah di depanku kubuka. Banyak kantong plastik di dalamnya. Kuambil, lalu kubuka satu persatu. Alhamdulullah rezeki itu sedikit demi sedikit mulai kelihatan. Botol air mineral, botol sirup, kardus bekas, hm… kupunguti mereka, kumasukkan dalam karung yang sedari tadi menunggu kedatangan mereka. Semuanya kuambil, hingga habis tak tersisa. Entah ada pemulung lain atau tidak, aku tak begitu peduli. Setelah habis, kututup kembali tong sampah itu seperti semula. Kupastikan tak ada sampah yang tercecer.
Tong-tong sampah berikutnya agaknya bersahabat denganku. Walau tak banyak, hampir di tiap tong kutemukan barang-barang bekas yang bisa kujual. Karung goniku akhirnya terisi, hampir penuh. Menjelang dzuhur, aku sudah berhasil mengaduk semua isi tong sampah. Akupun bergegas pulang dan kembali melewati dua orang satpam tanpa memandangi wajah mereka.
Kubawa botol-botol bekas itu kepada pengumpul. Barang-barang temuanku dikeluarkan, lalu ditimbang. Sebentar kemudian diganti dengan uang. Alhamdulillah, sepuluh ribu rupiah.
Azan dzuhur berkumandang. Aku mampir ke sebuah masjid. Setelah membersihkan badan dan berganti pakaian aku menghadap yang maha kuasa. Bertakbir, bertahmid, bersalawat. Lalu berdoa, sebuah doa yang diajarkan mamak kepadaku saat masih kecil dulu, “Ya Allah, hamba ini miskin maka kayakanlah, hamba ini lemah, maka kuatkanlah, hamba ini hina maka muliakankah, Amiin.”
Setelah mengisi perut, aku kembali melanjutkan pekerjaanku. Sama! Mengumpulkan barang-barang bekas seperti tadi pagi. Menjualnya kepada pengumpul dan mendapatkan uang kembali.
***
Malamnya, kuserahkan uang hasil keringatku pada istriku tercinta, Maimunah. Aku percaya dengannya. Dia istri yang baik. Dia tahu bagaimana cara membelanjakan uang.
“Capek, Kang?” tanya istriku.
“Lumayan,” jawabku.
“Rezeki hari ini banyak ya Kang?”
“Alhamdulillah,” balasku.
“Kalau tiap hari begini enak ya Kang. Setidaknya ada sisa uang yang bisa kita tabung. Sulung masuk SD bulan depan. Pasti butuh banyak biaya,” jelas istriku.
“Ya, semoga rezeki kita lancar,” balasku singkat.
Esoknya kembali aku bergelut dengan pekerjaanku. Kakiku mulai mendekati  perumahan pertama. Tampaknya, pintu gerbang ramai. Selain dua orang satpam seperti biasanya, di sana juga terlihat dua orang polisi. Kulihat dari kejauhan mereka tampak menghentikan kendaraan yang hendak masuk ke dalam perumahan.
Tumben? Ada apa ya? Tanyaku dalam hati.
Kakiku maju mundur antara melanjutkan langkah dan tidak. Kelihatannya telah terjadi sesuatu di sana. Seorang perempuan penjual sayur keluar dari perumahan. Kebetulan. Aku bisa bertanya padanya.
“Maaf, Bu. Ada apa ya? Kok ada polisi segala?” tanyaku sopan.
“Oooooo…, itu Pak, ada rumah yang kecurian. Uang, perhiasan, katanya sih, senilai 250 juta!”
“Sekarang setiap orang yang masuk di tanyai identitasnya,” jelasnya.
“Ibu juga?” tanyaku.
“Iya, saya ditanyai tadi. Udah Pak, saya mau melanjutkan jualan, mari,”
“Marii… , terima kasih, Bu,” balasku.
Aku masih ragu untuk masuk. Jangan-jangan nanti malah diusir. Tapi coba saja, siapa tahu boleh.
Dan benar, salah satu satpam menghentikanku.
“Maaf Pak, bapak tidak boleh masuk!” ujar salas satu satpam.
Tanpa banyak bicara aku mengangguk memberi hormat sambil tersenyum. Lalu bergegas meninggalkan mereka. Dugaanku ternyata benar.
Akupun terpaksa meninggalkan perumahan pertama dengan hati kecewa. Jangan khawatir, masih ada beberapa perumahan lagi. Gumamku menenangkan diri.
Tapi tampaknya pencurian itu membuat beberapa perumahan yang kebetulan letaknya berdekatan melakukan tindakan yang sama, melarang warga tak berkepentingan masuk. Dan terpaksa, aku mencari sampah bekas di sepanjang jalan yang aku lalui. Seadanya, sedapatnya. Hari ini aku hanya mengantongi uang kurang dari sepuluh ribu rupiah.
Dan seperti biasa kuserahkan uang itu pada Maimunah.
“Ini uang hari ini,” kataku pada istriku.
“Terima kasih, Kang. Tapii… kenapa hari ini sedikit sekali? Sedang tak ada yang bisa dipungut ya, Kang?”
Aku kemudian menceritakan kejadian di beberapa perumahan yang biasa kujadikan tempat mencari barang-barang bekas. Istriku hanya mendengarkan.
“Bukan Akang pencurinya kan? Lalu kenapa tidak boleh masuk?”
“Ya… demi keamanan barangkali. Orang macam kita kan perlu dicurigai. Siapa tahu memasukkan barang berharga mereka ke dalam karung? Itu yang akang rasakan selama jadi pemulung,” ujarku.
Malam mulai larut. Maimunah dan ketiga anakku mulai terlelap. Mereka tidur dalam satu dipan. Sedangkan aku mengalah mengatupkan kedua mataku di atas sebuh kursi kayu. Semoga besok aku bisa masuk ke perumahan. Lalu kembali menemukan barang-barang bekas itu.
***
Pagi-pagi aku sudah bersiap bekerja.Setelah berpamitan, aku bergegas menuju ke perumahan pertama. Pintu gerbang mulai kelihatan. Namun hatiku kembali menciut ketika sebuah tulisan besar terpampang di depan pintu gerbang, “PEMULUNG DILARANG MASUK!”
“Gusti Allah…..” hanya itu yang keluar dari bibirku. Karena tulisan itu kujumpai juga di setiap pintu gerbang perumahan-perumahan di sekitarnya.

——————————————————————
Titik Indriyana.
Penulis muda asal Kudus. Salah satu penulis dalam buku “Nyanyian Cinta” bersama Ahmad Tohari & KH Mustofa Bisri. Kini bekerja di Radio Rasika FM Semarang.
Email: zahra_cynk@yahoo.com. HP. 08170576285 / 0888 6500 486

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: