HUJAN DAN ANGANKU

Cerpen Rina Safitri

WAKTU baru menunjukkan pukul 2. Langit yang tadinya cerah, berubah menjadi kelabu. Angin sepoi-sepoi di susul rintikan air hujan, menetes membasahi tanah yang berdebu.
Hujan kali ini, mengganti siang yang panas menjadi sejuk. Bahkan dingin kini menjalari sekujur tubuh. Menyelinap, menusuk pori-pori. Hujan bertambah deras. Ku urungkan niatku pergi bersama teman – temanku ke pasar membeli sepatu.
Termenung aku melihat keluar lewat kaca – kaca rumahku. Langit masih hitam. Rintik hujan masih saja menetes, membasahi tanaman, daun dan tanahku yang sejak pagi disiram sinar mentari.
Sejurus kemudian, aku menyelinap masuk menuju kamar mandi. Aku baru ingat, kalau belum shalat dzuhur. Padahal waktu dzuhur hampir usai.

***
Usai shalat dzuhur, aku masuk kamar. Tumpukan pakaian di balai kamarku, masih kelihatan semrawut. Satu – satu aku ambil pakaian itu. Aku lipat. Lelah juga ternyata. Tapi hati ini puas. Karena kamar ku menjadi kelihatan rapi.
Pintu aku tutup dan ku kunci. Aku rebahkan tubuhku di atas kasur. Mataku menerawang memandang langit-langit kamar. Di pojok sebelah selatan kamarku, kulihat rumah serangga. “Brengsek. Bikin rusak pemandangan,” pikirku.
Tiba-tiba saja, sesuatu membuatku terlena. Ada sedikit perasaan yang mengusik pikiranku, dan juga jiwaku. Aku satukan tanganku. Aku lipat jari jemari. Kusatukan. Aku taruh dibawah kepalaku sambil tetap memandang langit-langit kamarku itu.
“Fitri, cepat keluar.” teriakan ibuku membuyarkan lamunanku. Masih malas aku menginjakkan kaki ke tanah, meski berkali – kali pula, kudengar teriakan perempuan yang melahirkanku itu.
Akhirnya, kupaksakan kaki ini turun. Lalu perlahan ku ayunkan langkah – langkah kecil menghampiri ibuku. Sampai di luar, aku melihat ibuku panik. Ternyata hujan deras lagi. Kilatan petir dan angin kencang, membuat ku merasa was-was pula.
“Duarrrr!” Suara geledek disertai kilat membuat suasana semakin tegang. Aku sebenarnya juga takut. Aku, Bapak, Ibu dan adikku yang semata wayang, lalu berkumpul di ruang tengah rumahku. Kami bercengkrama di ruangan itu sambil bercerita dan sesekali disertai guyonan, untuk menghilangkan rasa takut ini.
Namun hujan kali ini ternyata tidak reda – reda juga. Kilatan petir masih menyembar membelah bumi. Aku beranjak, mengintip suasana di luar. Banyak pohon pisang tumbang. Genteng tetangga, tak luput dari amukan angin sehingga ada yang tanggal.
Di samping rumah, pohon cemara kesayanganku, tak luput diterkam angin yang kencang itu. Tumbang, Akarnya tercerabut dari tanah yang telah memberiku kehidupan dan aku jadikan tempat bermain sejak aku dilahirkan ke dunia ini.
Hujan masih turun. Kilat dan petir tak ketinggalan, meramaikan suasana itu semakin mencekam kalbu. Ahhhhhhhhhhh, semoga hujan ini cepat reda. Doaku dalam batin.

***
Malam mulai merayap. Hujan juga sudah mulai reda. Hanya sesekali, angin kencang menerpa, membelai pori-pori tubuhku.
Aku keluar. Duduk aku di kursi depan rumah. Hujan belum reda benar. Angin kencang sesekali juga datang. Kupandang langit masih agak hitam. Bulan juga tak kelihatan. Tertututp mendung yang b elum juga menghilang.
Kali ini, anganku tertuju pada seseorang yang baru beberapa jam lalu aku kenal. Mas Suharbadi. Lelaki itulah yang telah merebut hatiku untuk tidak sekedar simpatik, tapi mencintainya.
Sederhana saja. Tampan? Bukan karena itu aku suka. Kaya? Ia tidak kaya. Paling tidak, itu yang dikatakannya pertama kali ketemu di rumah salah seorang kawannya di kota kelahiranku.
Terlintas tanya dalam anganku. Apakah di sana, di tempat orang yang baru sekali ku temui itu, juga di siram hujan? kedinginankah dia di sana. Masih ingatkah ia padaku, yang saat ini merindukannya?
Kucoba alihkan pikiranku dengan memandang sekeliling. Tapi perasaan itu. Tak bisa kupungkiri, aku terlalu merindukannya. Pada hujan kali ini, aku berharap, bawalah suara hati ini. Sampaikanlah wahai angin. Lewat hembusan penuh rindu.
Sudah hampir seminggu berlalu. Perasaanku selalu saja terbawa pada bayang – bayangnya. Dia yang telah memberikanku semangat, meniti hidup penuh optimisme di tengah keterbatasan. “Tuhan akan mencarikan jalan hamba-Nya yang berjuang tanpa putus asa,” katanya.
Ditengah banyak kawan yang mencibirku dengan aktifitasku yang suka menulis cerpen dan puisi, ia hadir dengan segenap spirit yang membuatku berdiri tegak. Optimis. Dan satu cita-cita ku untuk menjadi seorang penulis, harus aku raih. “Terima kasih, mas,” batinku.

***

Riuh terdengar di luar sana. Aku keluar dengan langkah gontai. Bau tanah basah karena hujan sejak siang tadi, menusuk hidung. Dahan, ranting dan daun banyak berserakan. Para tetangga terlihat sibuk membersihkan pekarangan rumah yang kotor akibat daun dan ranting yang jatuh berserakan itu.
Ayahku tak kalah sibuk. Beliau memeriksa kabel listrik. Sementara ibu menyapu halaman rumah yang kotor penuh daun-daun. Adikku pulang tergopoh-gopoh membawa sekantong plastik berisikan mangga muda yang dipungutnya dari pohon mangga di pekarangan tetangga yang berjatuhan. Suasana sangat sibuk. Namun aku masih bengong duduk di kursi kayu teras rumah.
“Fitri, cuci piring sana. Ibu mau istirahat dulu,” panggil ibuku.
Panggilan ibu, menyadarkanku dari lamunan panjangku. Aku beranjak berdiri. Berjalan. Satu satu langkah ku ayunkan menuju dapur. Ku pungut satu persatu piring dan gelas kotor itu. Aku sabun. Lalu aku bilas.
Dalam batin, aku bahagia karena mempunyai orang tua dan adik yang memberiku banyak kesempatan untuk beraktifitas dan menulis karya – karya yang belum pernah terpublikasikan sampai saat ini.
Dan kehadiran mas Suharbadin beserta kawannya itu, seakan membuka jalan, bagi masa depan dan cita – citaku menjadi seorang penulis.
Terima kasih Bapak, Ibu, Adik serta orang – orang yang telah memberiku semangat. Dan hujan. Berilah aku inspirasi untuk berkarya. Angin, kan kusambut engkau dengan senyum, harap dan do’a pada Tuhan, agar memberiku kekuatan untuk mencipta.
Kepada hujan dan angan ………………..

Kudus, November 2006.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: