‘Meniru Loram, Loram Meniru’

Oleh Rustam Aji

rustam.JPG

Julukan sebagai kota industri, laik disandang kota Kudus.  Kabupaten terkecil di Jawa Tengah yang hanya memiliki luas wilayah 4.515,644 ha. Di sini, berdiri kurang lebih 13.346 perusahaan berskala kecil, menengah, dan besar yang menyerap tenaga kerja cukup besar pula.

Tetapi tak hanya itu, yang membuat Kudus dikenal sebagai Kota Industri. Masyarakatnya yang kreatif dan memiliki jiwa wirausaha kental, menjadikan kota melesat pertumbuhan industrinya di banding daerah lain. Industri-industri tak hanya tumbuh di perkotaan saja, tapi juga di desa-desa. Hampir di setiap desa di Kabupaten Kudus memiliki home industry. Ini, jelas kecil kemungkinan bisa terjadi pada desa-desa di daerah lain.

Berbicara industri di kota Kudus, kita tidak bisa melupakan satu desa yang masuk wilayah Kecamatan Jati, yakni Desa Loram.

Ada apa dengan Loram? Sebenarnya tidak ada perbedaan yang mencolok antara Loram dengan desa lainnya, kecuali keunikan masyarakatnya. Di desa ini, kebanyakan masyarakatnya memiliki daya ‘kreativitas’ tinggi dalam hal ‘mencipta’ sebuah produk. Tak berlebihan bila kemudian di desa ini banyak tumbuh industri-industri kecil (home industry)  yang sangat beragam. Tas, pakaian, sabuk dan kerajinan lainnya.

Hasil-hasil kerajinan dari Desa Loram bisa dengan mudah kita temukan di Pasar Kliwon Kudus. Namun, hampir rata-rata produk yang dihasilkan dari Loram bukanlah ‘produk asli’. Konon, banyak barang yang dihasilkan merupakan produk hasil ‘meniru’.

Toh begitu, kita tak bisa dengan mudah menuduh mereka melakukan plagiat. Mengingat, rata-rata produk yang dihasilkan menggunakan merk sendiri. Istilahnya, ‘barang boleh sama, tetapi nama bisa beda.’ Termasuk kualitas bahan yang digunakan. 

***

Berbicara soal tiru meniru sebuah produk, bukanlah isu baru. Kalau boleh jujur, hampir kebanyakan produk yang beredar luas di Kudus –bahkan Indonesia—adalah hasil ‘meniru’. Hanya beberapa produk saja bisa kita identifikasi sebagai karya orisinil. Untuk melihat apakah itu orisinil atau tidak, bisa dibuktikan dari merk yang digunakan sudah dipatenkan atau belum.

Banyaknya peredaran barang produksi aspal (asli tapi palsu), sebenarnya juga dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang suka akan barang-barang ber-merk (sudah memiliki nama), sementara isi kantong sangat terbatas –bila tak mau disebut gengsi. Akibatnya, masyarakat lebih suka membeli barang yang murah tapi ber-merk tak peduli barang itu asli atau tidak. 

Hal itulah yang mengakibatkan banyak muncul produk-produk bajakan. Di sisi lain, penegakan hukum atas produk-produk ilegal belum begitu kentara. Meski ada beberapa pelaku ‘plagiasi’ yang dijerat hukum, tetapi hal itu belum mampu memberikan efek jera, karena ‘ganjarannya’ masih terlalu ringan.

Terlepas dari itu semua, penulis menilai, sudah saatnya bagi pemerintah daerah untuk bisa ‘ngopeni’ para “pengusaha” macam di Loram. Yakni, dengan mengarahkan –juga mensupport dana tentunya—sehingga bisa menghasilkan karya yang bisa diakui. Lebih dari itu, Loram bisa dijadikan sebagai desa percontohan untuk hasil-hasil kerajinan. Mengingat, banyaknya ragam produk kerajinan yang   dihasilkan. Bila tidak ditangani secara benar, maka Loram selamanya akan dikenal sebagai ‘tempat meniru’.

Loram adalah fenomena masyarakat yang suka “mencipta” ditengah persaingan pasar niaga yang keras. Apa yang tidak bisa dicipta di tempat lain, Loram hampir pasti bisa melakukannya. Sungguh hal yang luar biasa! Tetapi dibalik itu semua, apalah artinya sebuah hasil karya, kalau itu menjiplak karya orang lain.

Dunia perdagangan memang keras. Namun yang perlu diingat, bahwa semua tetap memerlukan etika. Bayangkan, bila semua berlaku dan bersikap tanpa etika, maka yang terjadi selamanya adalah kemunafikan. Membodohi diri sendiri, juga membohongi Tuhan. Padahal, kita hidup berlandaskan etika dan aturan agama yang mengikat. Apalagi, Kudus dikenal sebagai “Kota Religius” –di mana perilaku masyarakat sangat menjunjung etika dan aturan agama. Sehingga, sangat ironis bila kemudian di sini tumbuh kembang budaya tiru-meniru.

***

Sekali lagi, Desa Loram adalah sebuah fenomena. Meski di sini banyak tumbuh kembang industri “ber-merk tiruan”, namun banyak pula bisa ditemukan hasil industri/kerajinan asli masyarakat setempat. Karena itu, dalam dunia usaha –apalagi era global seperti saat ini—pasti yang akan memenangi “pertandingan” pada akhirnya adalah yang asli.

Ada beberapa alasan yang bisa dikemukakan di sini. Pertama, produk tiruan biasanya hanya mampu bersaing di pasar lokal. Sementara untuk pasar luar, jelas akan sangat kesulitan. Karena pasti akan kalah bersaing dengan produk asli. Dengan pasar yang sangat terbatas ini, sudah pasti, produk tiruan lama kelamaan akan ditinggal peminat. Sebab tak bisa mengikuti perkembangan model.

Kedua,  produk tiruan sangat sulit bisa ekspansi ke luar. Sebab, modelnya sangat tergantung pada produk asli. Pada posisi seperti ini, jelas akan ditinggal konsumen. Mengingat, pada era persaingan dagang seperti sekarang, perusahaan harus pandai-pandai merebut hati konsumen. Caranya, dengan menciptakan model baru. Bahkan, berdasar pengetahuan penulis, untuk bisa merebut konsumen, seperti halnya konveksi, hampir setiap minggunya mengeluarkan model baru.

Ketiga, secara hukum, produk tiruan jelas menyalahi hukum perdagangan. Karena itu, produknya tidak bisa bebas dipasarkan. Padahal, syarat bisa eksis dan berkembangnya usaha, adalah mampu memasarkan produk/barang seluas-luasnya. Nah, bila menjualnya saja harus “sembunyi-sembunyi” bagaimana mampu melebarkan ‘sayap’. Untuk merebut pasar nasional saja, jelas akan mengalami kesulitan. Jelas, ini sangat tidak nyaman pada proses pemasaran. Pada akhirnya, ini akan berimbas pada hasil penjualan.

Keempat, konsumen saat ini sudah pintar. Diakui atau tidak, konsumen sekarang ini memiliki gengsi sangat tinggi. Mereka akan lebih suka membeli barang ber-merk, meski harus merogoh kocek lebih banyak. Ini artinya, barang mahal saat ini telah menjadi ukuran gaya hidup (life style). Lihat saja, sekarang masyarakat lebih suka pergi ke mall, dibanding ke pasar tradisional. Sebab, di mall meski agak mahal tetapi kualitasnya tetap terjamin. Ini, sangat berbeda bila kita membeli barang di pasar tradisional. Meski di sini menyediakan barang-barang berkualitas, tetapi image yang terbangun sudah negatif. Artinya, jaminan kualitasnya tak dapat “dipertanggungjawabkan.” Selain itu, sadar barang dagangannya ada yang meniru, biasanya suatu perusahaan akan mengeluarkan produk dengan memberi identitas tertentu. Yang mana, tidak semua orang bisa tahu, kecuali atas petunjuk dari pemegang merk.

Nah, melihat kenyataan tersebut, saya pesimis Loram mampu menjaga eksistensinya. Kecuali ada “mukjizat” yang mampu mengubah style masyarakat di sana. Maka, Loram akan menjadi desa percontohan seperti halnya pernah diraih oleh Desa Pedawang tahun 1992.

—————————-

Penulis adalah Wartawan Jawa Pos Radar Kudus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: