Hidup Apa Adanya

Subarkah SH, M.Hum

Subarkah, begitu nama lelaki kelahiran Malang, 10 Oktober 1960. Sejak 1987, Sarjana Hukum spesialisai hukum Internasional Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, ini telah menjadi Dosen di Fakultas Hukum Universitas Muria Kudus (UMK). Dedikasinya yang tinggi kepada UMK, mengantarkan putra H. Sholikin dan Hj. Maswiyati ini sebagai Pembantu Dekan (PD) II Fakultas Hukum UMK dua kali berturut-turut (1992-1995 & 1995-1998).

Ceritanya, sejak merampungkan kuliah di Fakultas Hukum UNDIP, suami Nur Chamah ini bercita-cita menjadi Diplomat. Bapak 5 putra ini pun sempat mendaftarkan diri di Departemen Luar Negeri. Namun ada beberapa hal yang menjadikannya tidak diterima. Akhirnya mantan Bendahara Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Semarang ini kembali ke Kudus, dan mendaftarkan diri sebagai dosen di UMK.

Selain menjadi Dosen, Barkah, sapaan akrabnya, juga sempat aktif di beberapa organisasi seperti AMPI, KNPI, LPBH NU Cabang Kudus (1998-2003 & 2003-2008) dan FOKSIKA PMII cabang Kudus.

Kesibukannya yang luar biasa sebagai dosen dan diberbagai organisasi, tak menyurutkan langkahnya untuk terus belajar. Tahun 2004 menjadi bukti kecintaannya akan ilmu dan pendidikan. Yaitu dengan diraihnya Magister Hukum konsentrasu Hukum Ekonomi dan Teknologi UNDIP.

Lepas sebagai PD II, mantan Kabag. Hukum Pidana UMK ini langsung diangkat sebagai Dekan Fakultas Hukum UMK (1998-2001). Selang empat tahun kemudian, ia kembali diangkat menjadi Dekan Fakultas Hukum UMK (2005-2009).

Meski posisi penting sering diraih, namun Barkah bukanlah orang yang gila jabatan. Ditemui INFO KUDUS di rumahnya, ia mengatakan tidak pernah mencalonkan diri sebagai Dekan, tetapi dicalonkan. Anehnya, para kandidat yang lain bahkan ada yang memberikan suara kepadanya.

Low profile, mudah diajak bergaul, suka diajak bertukar pikiran dan tidak suka memaksakan kehendak. Itu terbukti dengan diberinya anaknya kebebasan untuk menentukan yang terbaik bagi masa depannya. “Biarlah anak-anaknya menentukan mereka mau jadi apa. Saya cuma memberi motivasi saja,” tuturnya kepada INFO KUDUS di rumahnya, Rabu (20/9) lalu.

“Hidup apa adanya” menjadi motto hidup mantan penyiar Radio Cendrawangsih Semarang selama kurang lebih dua tahun. Waktu itu, gaji yang diterimanya 75 ribu rupiah. Tak heran jika sekrang ia memetik buah dari perjuangannya. Maka, “Hargailah proses,” pesannya. (Nasrur)

1 Comment »

  1. 1
    Dafid Says:

    Biografinya manthab jaya . . . .🙂


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: