Bacin

Cerpen Mukti Sutarman Espe

Setiap kali membuka almari pakaian , setiap kali itu pula hidungku tersergap bau tidak sedap. Serupa bau bacin bangkai seekor binatang yang sering tercium dari tempat akhir pembuangan sampah di kota-kota besar.

Mula-mula aku menyangka bau bacin itu menyeluar dari bangkai seekor cicak atau tikus kurang ajar yang menyelinap ke dalam almari dan terjebak mati di sela-sela tumpukan pakaian. Akan tetapi setelah isi almari kubongkar, satu per satu pakaian kukeluarkan dan kukibaskan, tidak kutemukan sebarang bangkai binatang apa pun.

“Panjenengan mencium bau bacin, Mas?” tanyaku kepada Mas Tarom, suamiku, suatu pagi di hari libur.

“Ya. Mengganggu sekali.”

“Tapi di mana ya sumbernya?”

“Jangan-jangan di belakang alamari, Min,” ujar Mas Tarom seraya mencoba menggeser letak alamari. Gagal.

Aku tertawa. Meskipun tubuhnya kian hari kian tambun, Mas Tarom justru seperti kian kehilangan kekuatan fisiknya, berkurang tenaganya. Itu kutandai sejak kondisi ekonomi keluarga kami semakin membaik. Tepatnya, setelah satu setengah tahun ia dilantik menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat di kota kami.

“Sudahlah, Mas. Tidak usah memaksa diri. Panjenengan sudah tua. Loyo. Panggil saja Parlan,” kataku setengah berseloroh.

Mas Tarom tertawa. Dengan berteriak dipanggilnya Parlan, pembantu kami. Keduanya kemudian menggeser letak almari, setengah meter dari tempat semula.

“Coba kamu periksa lalu bersihkan itu, Jan!” Pandang mataku tertuju ke sawang dan debu yang teronggok di lantai, bekas tempat almari berada.

Tanpa bertanya apa pun Parlan mengerjakan perintahku. Dengan sapu lidi debu dan sawang dibersihkan. Namun tidak juga terlihat bangkai binatang apa pun.

“Coba kamu periksa sekali lagi, Jan. Kalau-kalau menempel di tembok.” Mas Tarom mendorong pundak Parlan.

“Sudah saya periksa semua. Lagian kalau ada bangkau pasti tercium baunya, Pak”.

Aku kaget.

“Lho, jadi sejak tadi kamu tidak mencium bau bacin to, Jan?”

“Tidak, Bu!”

“Kamu tidak bohong, Jan?” Mata Mas Tarom setengah mendelik. Parlan ragu-ragu. Ia mencoba membaui udara. Cuping hidungnya kembang kempis.

“Saya tidak mencium bau apa pun.”

Aku dan Mas Tarom bersabung pandang. Rasa heran kian menggumpal di benakku. Sementara Parlan tampak bingung. Agaknya ia belum tahu apa yang sebenarnya sedang menimpa kami.

“Ah, mungkin hidungmu yang ndak beres, Jan. Tesumbat kerikil!” Mas Tarom mencoba melucu.

Parlan tersenyum, kemudian pamit, setelah mengembalikan almari ke tempatnya semula.

Sepeninggal Parlan, aku dan Mas Tarom masih mencoba mencari sumber bau bacin di sekitar almari. Kolong ranjang, laci meja rias, tidak luput dari sasaran pemeriksaan kami. Nihil! Tidak tertemukan bangkai binatang di kamar tidur kami.

“Panjenengan masih mencium bau bacin, Mas ?” tanyaku. Satu demi satu kulipat pakaian, sebelum menatanya kembali ke dalam almari.

“Masih!”

“Tapi kenapa Parlan tidak menciumnya?”

“Jangan-jangan Parlan berbohong.”

“Tidak mungkin. Parlan sangat jujur. Sejak ikut kita jarang sekali dia berbohong.”

Mas Tarom mengangguk. Tangannya memijit-mijit kening. Biasa, bila sedikit lelah ia memang begitu, gampang berasa pening.

“Coba panggil Mak Jah dan tanyakan kepadanya, Min!” Mas tarom menyisihkan beberapa potong pakaian yang masih terserak di tempat tidur, lalu duduk mencakung di tepinya.

Kupanggil Mak Jah, pembantu kami yang lain. Kuminta ia membantu melipat pakaian yang masih tersisa dan belum kumasukan dalam almari. Lalu kutanya dia,

“Kamu mencium sesuatu, Mak?”

Mak Jah menghentikan kegiatannya. Ia kelihatan mencoba menajamkan penciuman, berkonsentrasi penuh membaui ruangan. Sesaat, beberapa saat, lalu menggeleng.

Lagi, aku dan Mas Tarom berpandangan. Heran dan bingung bercampur menjadi satu. Bude Sri, Lik Kus, Kang Yitno, dan beberapa kerabat yang lain kami undang dan kami ajak ke kamar. Almari kami buka, mereka kami tanya soal bau bacin itu. Tetapi, semua mengatakan dengan tegas tidak mencium bau apa pun di kamar kami. Aneh, sungguh aneh!

Menghadapi keadaan itu kami berusaha tidak kehilangan akal sehat. Anjuran dari beberapa kerabat agar kami mencari “orang pintar” hanya kami tanggapi dengan senyuman dan anggukan. Sementara untuk mengatasi bau bacin yang terus mengganggu hidung kami, Mas Tarom punya gagasan membeli almari baru. Aku setuju.

“Engkau masih punya simpanan uang, Min? “ tanya Mas Tarom, suatu malam, seusai mengambil baju tidur di almari.

“Masih. Uang sisa pemberian Pak Bupati seminggu lalu.”

“Uang pengesahan LPJ itu?”

“Ya.”

“Masih berapa?”

“Sebentar.”

Sesegera kubuka almari, kutarik salah satu lacinya. Dan serentak dengan itu bau bacin luar biasa menyengat hidungku. Aku mundur. Secera refleks kututup hidungku dengan telapak tangan. Perutku mendadak berasa mual sekali.

“Jangan-jangan di laci itu?” Sambil membekap hidung Mas Tarom mendekat.

Dengan seksama aku dan Mas Tarom memeriksa laci almari. Laci yang satu itu memang belum kami periksa. Maklum, di situlah tersimpan uang dan seluruh perhiasan milik kami. Jadi, hanya pada waktu-waktu tertentu saja kami membukanya.

“Ndak ada apa-apa, Mas,” kataku.

“Ya, ndak ada bangkai di situ.”

“Tapi kenapa uang dan semua perhiasan di laci itu berbau bacin begitu, Mas?”

Mas Tarom memijit-mijit keningnya. Wajahnya kelihatan berkeringat.

“Jangan-jangan….” Mata Mas Tarom menerawang ke langit-langit kamar.

“Jangan-jangan apa, Mas?”

“Sudahlah. Besuk kita beli almari baru.dan jual semua perhiasan itu” Mas Tarom mendorong kembali laci almari sebelum menutup pintunya.

“Tapi. Mas. Perhiasan itu….”

“Kita jual lalu beli perhiasan yang baru.”

Aku terdiam. Lidahku kelu.

*****

Keputusan kami untuk menjual perhiasan dan mengganti almari ternyata keputusan yang tidak salah. Bau bacin jadi sama sekali tak tercium sedikit pun di ruang tidur kami. Kami menjadi sangat lega. Kini hidung kami terbebas dari teror bau. Kami kembali dapat menikmati kenyamanan kamar tidur kami.

Akan tetapi hal itu ternyata hanya sementara. Belum genap tiga minggu,.mendadak bau bacin itu datang lagi. Kali ini kualitas bacinnya bahkan semakin hebat. Dalam keadaan pintunya terbuka atau tertutup, bau bacin sangat menyengat tercium dari almari sehingga setiap kali hendak masuk kamar, kami mesti membekap hidung kuat-kuat atau bahkan terpaksa memakai masker.

Untuk bisa keluar dari tekanan kondisi demikian berbagai upaya pun kami lakukan. Menaruh kamper dan narwastu di sela-sela pakaian, menyemprotkan wewangian ruangan di seluruh penjuru kamar. Namun, bau bacin itu tetap bandel, tidak juga mau hilang. Kami benar-benar kehilangan akal.

“Tiba-tiba saja bau bacin itu datang lagi, apa sebabnya ya, Min?” Tanya Mas Tarom, suatu sore, saat kami duduk-duduk santai di beranda belakang.

“Entahlah, Mas. Aku juga heran dan bingung sekali.”

“Coba kamu ingat-ingat, barangkali menaruh sesuatu di dalam almari ,”

“Seingatku, hanya uang pemberian panjenengan dua minggu lalu itu,”

“Uang dari penerbit buku itu?”

“Ndak tahu. Pokoknya uang 50 juta yang panjenengan berikan dua minggu lalu itu.”

“Jangan-jangan uang itu, Min?” Suara Mas Tarom terdengar cemas sekali.

“Lha itu uang apa dan dari siapa, Mas?”

“Aku lupa mengatakan kepadamu. Uang itu pembagian hasil memenangkan tender buku pelajaran sekolah dari sebuah penerbit.”

“Tapi apa salahnya dengan uang itu. Bukankah semua teman panjenengan juga mendapatkannya?”

“Ya, teman-teman anggota dewan lainnya juga menerimanya .”

“Kalau begitu apa istimewanya ? Bukankah itu sama dengan uang pengesahan LPJ bupati. Sama dengan sisa uang pengglembungan dana perjalanan studi banding yang sering panjenengan ceritakan itu.:.

“Ya iya. Tapi coba kamu ingat, sebelum almari kita ganti, bukankah bau bacin pertama beberapa waktu itu,berasal dari laci tempat kau simpan perhiasan dan sisa uang pengesahan LPJ bupati? Jangan-jangan bau keparat itu muncul lagi gara-gara uang tender buku !”

Aku terdiam. Ragu-ragu. Di benakku, tiba-tiba melintas semua peristiwa sebelum dan sesudah Mas Tarom menjadi anggota dewan. Bagaimana dulu kami mesti berpindah dari satu rumah kontrakan yang satu ke rumah kontrakan yang lain. Betapa kami harus pinjam uang ke sana kemari demi mengepulnya asap dapur kami. Mencuci bertumpuk pakaian kotor, berdesak-desakan di angkota, merupakan kegiatan harianku. Maklum Mas Tarom hanya makelar sepeda motor bermodal dengkul, sedang aku hanya berstatus ibu rumah tangga.

Lalu begitu Mas Tarom terpilih dan dilantik menjadi anggota dewan, pelahan tapi pasti kondisi ekonomi kami mengalami perbaikan. Kami mampu membangun rumah bertingkat, membeli mobil, membeli perabotan mahal, membeli berbidang-bidang sawah dan tanah . Resti, satu-satunya anak kami pun mampu kami kuliahkan di perguruan tinggi terpandang melalui jalur khusus. Beberapa kerabat dan handai tolan , lewat pengaruh Mas Tarom, bahkan berhasil mendapat pekerjaan di lingkungan kantor bupati. Pendek kata, hidup kami serba berkecukupan.

Akan tetapi bau bacin itu? Persetan! Bayangan kesengsaraan hidup di masa lalu tiba-tiba muncul di kepalaku. Aku tak sudi mengalaminya lagi. Aku bosan jadi orang miskin! Sangat bosan!

“Lalu kalau benar bau bacin itu berasal dari uang tender buku, apa yang akan Panjenengan lakukan, Mas? Mengembalikannya? Membagikannya ke panti-panti asuhan, ?” tanyaku.

Mas Tarom menghela napas. Diam membisu. Tidak sekali ini dia bersikap begitu. Bila saja tidak takut kepadaku, niscayalah, selain uang gaji bulanan, uang-uang lain yang diterimanya selama menjadi anggota dewan, sudah lama dikembalikan atau disumbangkan ke panti-panti asuhan atau tempat-tempat lain yang membutuhkan.

“Itu uang peteng. Bukan hakku,” katanya selalu. Dan kalimat seperti itu kemudian tidak pernah lagi diucapkan ketika ia tahu bahwa aku tidak suka bahkan sangat marah setiap kali mendengarnya.

“Sudahlah, Mas. Kita hadapi keadaan ini bersama-sama.Jangan gara-gara bau bacin, rumah tangga kita menjadi berantakan. Kalau benar bau bacin itu berasal dari uang tender buku, bilamana uang habis pasti hilang sendiri nanti.” Kupegang tangan Mas Tarom. Kupijit lembut keningnya. Ia menghela napas. Wajahnya murung.

“Lalu bagaimana cara mengusir bau bacin itu, Min?” Suara Mas Tarom parau.

“ Nanti kita cari upaya lain, Mas.”

*****

Berbagai upaya untuk mengusir bau bacin dari kamar terus kami lakukan. Apa saja cara yang telah kami tempuh, rasanya tidak bisa lagi kami ingat satu per satu. Bahkan mendatangi “orang pintar” pun akhirnya kami lakukan juga. Tetapi semua belum mendatangkan hasil yang menggembirakan.

Pada akhirnya kami pasrah. Kami tidak lagi berupaya mengenyahkan bau bacin dari kamar kami. Kami jadi menganggapnya sebagai salah satu bagian dari hidup keseharian yang mesti diterima, dijalani, bahkan mesti dinikmati.

Dan terjadi sesuatu yang sangat aneh. Dengan bersikap pasrah, lama-kelamaan ternyata bau bacin itu tidak lagi tercium hidung kami. Kami, aku dan Mas Tarom, terkadang malah mencium bau wangi serupa aroma reroncen kembang melati merebak di kamar kami..

Mengalami peristiwa itu, kami benar-benar tak habis heran sekaligus tidak mengerti. Rasa heran dan tidak mengerti kami itu kian menjadi-jadi, manakala mengetahui, Resti, Parlan, Mak Jah, dan beberapa kerabat, justru selalu menutup hidung setiap kali masuk ke kamar kami.

Mlati Lor Kudus 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: