Pilihan Tepat Menjadi Perawat

Januari 15, 2008

AKPER “KRIDA HUSADA” KUDUS

dscn6636.jpgSebagai profesi, perawat bisa menjadi salah satu pilihan untuk meraih  masa depan gemilang. Namun untuk itu, diperlukan ketrampilan profesional yang siap pakai tentunya.
Bicara masalah perawat, Akademi Keperawatan (Akper) “Krida Husada” Kudus adalah salah satu dari sekian Akper yang ada di kabupaten Kudus, yang siap mengantarkan mahasiswanya menjadi perawat – perawat profesional, kompetitif dan berdaya saing.
Dengan bekal SK. Menteri Kesehatan No: HK.00.06.1.1.2739, Akper “Krida Husada” Kudus didirikan dengan tujuan mencetak perawat yang memiliki kemampuan akademik yang profesional dan tangguh.
dscn2190.jpgdscn2235.jpgp4240009.jpgKampus yang kondusif di Jl. Lambao No.1 Singocandi Kudus serta fasilitas yang memadai seperti Lab. Komputer, Lab. Bahasa dan perpustakaan, menjadikan Akper “Krida Husada” Kudus layak sebagai pilihan untuk menempa diri menjadi perawat profesional.
Keunggulan Akper “Krida Husada” Kudus, mahasiswanya dibekali dengan ketrampilan berbahasa Inggris dan bahasa Arab, sehingga lebih siap menghadapi persaingan global di dunia keperawatan. Selain itu, agar mahasiswanya juga lebih siap jika ingin meneruskan pendidikannya di luar negeri.

Tim liputan

Pendatang Baru di Tae Kwon Do

Januari 15, 2008
Joni Setyo Utomo
Kiprahnya di dunia beladiri Tae Kwon Do memang terbilang baru. Namun prestasi putera kelahiran Kudus belasan tahun silam, ini terhitung luar biasa. Bagaimana tidak, meski baru sekitar satu tahun menggeluti dunia ini, ia sudah mendapatkan dua gelar kejuaraan.
Adalah Joni Setyo Utomo. Putera kelahiran pasangan Sutomo dan Sulasmi yang beralamat di Desa Jepang Mejobo ini, dari 2 kali pertandingannya, selalu mendapat gelar kejuaraan. Awal Maret lalu, siswa MTs. Negeri 2 Kudus ini menjadi Juara I Tae Kwon Do se Kabupaten Kudus. Tak berselang lama, ia menggondol Juara II pada perlombaan yang sama tingkat Karesidenan Pati di Rembang, April lalu.
Tak disangka, memang. Dibalik sikapnya yang pendiam, bungsu dari 3 bersaudara ini, menyimpan prestasi luar biasa yang layak mendapat dukungan dari berbagai pihak. Karena bagaimana pun, sebagai atlet, ia bukan lagi milik keluarga dan teman – temannya, tapi daerah dimana ia dilahirkan.
Apa keinginannya setelah besar? “Saya ingin menjadi Tentara agar bisa membantu Bapak dan Ibu. Saya juga ingin menjadi atlet nasional agar bisa mengharumkan nama kota Kudus,” akunya.
Lalu, bagaimana Joni dimata para Sabemnya (panggilan untuk pelatih Ta Kwon Do)? “Joni anak yang baik dan disiplin. Tiap hari ia berlatih. Sehingga meski terbilang baru, ia sudah mampu mendapatkan kejuaraan,” kata Sabem Saliyono.
Mengenai Tae Kwon Do di Kudus, menurut Sabem yang mendapatkan sertifikat dari Korea ini, masih membutuhkan banyak perhatian. Alat – alat seperti Matras, Body Protector dan Pyongyok masih kurang. Untuk itu, ia berharap orang – orang yang peduli terhadap masa depan Tae Kwon Do di Kudus seperti Sabem Suyono agar dirangkul kembali. Agar ke depan, Tae Kwon Do Kudus bisa lebih baik.

Cacat bukan Akhir Segalanya

Januari 15, 2008

Baru – baru ini, Indonesia kedatangan tamu seorang pilot buta dari Inggris, Miles Hilton Barber. Ia adalah pilot buta pertama di dunia, yang melakukan penerbangan melewati kawasan udara Eropa, Timur Tengah, Pakistan, India, Myanmar, Malaysia, Indonesia, Darwin dan berakhir di Sydney Australia.
Kemampuannya “terbang”,  itu seakan menjadi “wejangan tersendiri” bagi para penyandang cacat, apapun, bahwa tidak seharusnya cacat yang dialami, membuat patah semangat. Meski cacat, seseorang masih bisa melakukan sesuatu yang berguna bagi masyarakat.
Miles, misalnya. Misi penerbangannya ke berbagai Negara ialah dalam rangka menggalang dana untuk disumbangkan bagi penyandang Tuna Netra di dunia. Dengan kemampuannya menerbangkan pesawat, ia juga mengampanyekan kepada khalayak, cacat fisik hendaknya tidak menjadi penghalang seseorang meraih cita – cita dan berkreatifitas.
Apa yang dilakukan Miles, sudah seharusnya menjadi pelajaran bagi para penyandang cacat. Buta, tuli, bisu, tak punya kaki, tak punya tangan dan lain sebagainya, adalah cobaan yang tidak seharusnya mematahkan semangat mereka dalam menggapai cita – cita.
Agar para penyandang cacat juga tidak menjadi orang yang bodoh, bisa berkreatifitas dan sedapat mungkin mengembangkan minat dan bakatnya, pemerintah pun telah mendirikan lembaga pendidikan – lembaga pendidikan bagi orang cacat.
Di Jawa Tengah, lembaga pendidikan bagi penyandang cacat yang berada ditangani Dinas Sosial adalah Panti Tuna Netra dan Tuna Rungu Wicara (PTN & TRW) Pendowo (Kudus), PTN & TRW Distrarasta (Pemalang), PTN & TRW Penganthi (Temanggung), PTN & TRW Bhakti Candrasa (Surakarta), PTN & TRW Dharma Putra (Purworejo), Panti Tuna Grahita Raharjo (Sragen), Panti Tuna Laras Ngudi Rahayu (Kendal) dan Panti Tuna Laras Pangrukti Mulyo (Rembang).
Berbagai lembaga pendidikan bagi penyandang cacat itu, adalah wujud nyata kepedulian pemerintah dalam rangka menyejahterakan rakyatnya di bidang pendidikan tanpa pandang bulu.
Untuk itu, bagi masyarakat yang mempunyai keluarga yang terlahir cacat, sudah seharusnya menggunakan kesempatan baik itu untuk memberikan kesempatan kepada anggota keluarganya yang cacat agar tetap bisa belajar.
Satu catatan, jangan sampai keluarga merasa malu menyerahkan anggota keluarganya yang cacat untuk dididik di panti – panti sosial itu, hanya karena alasan malu, misalnya. Karena rasa malu itu sama artinya membunuh kreatifitas dan bakat orang – orang kurang beruntung itu.