Fajar pagi baru usai, tetes embun mulai sirna saat mentari mencoba menyibak cakrawala dengan semburat sinarnya. Ujung dedaunan dan ilalang masih menyisakan lamur. Kicauan burung yang hanya tersisa satu dua mencoba merangkai lagu pagi di bagian utara lereng Muria. Para perempuan kaki gunung mulai mengentaskan tubuh basahnya dari beku air belik. Para lelaki terhanyut menanti [...]
Archive for the 'Sastra' Category
Telephone
Januari 14, 2008Puisi
Januari 14, 2008Rindu Tak Berharap
Teratai putih tebarkan wangi
Gemericik air danau biru
Akar pohon cemara ramalkan asmara
Dedaunan pun tersenyum ceria
Ranting-ranting patah gemeretak
Air pun gemericik…
Diapun berdiri ditepinya
Lamunkan kenangan manis bersamanya
Oh…. Angin sampaikan rinduku
Bulan terangi rasaku
Kapankah bunga itu kembali
Mekar dalam taman hati
Nyalakan lilin terangi gelapnya hati
Temaramkan lentera patahkan asa
Pergimu tak mungkin kembali
Kau yang campakan segalanya
Tinggalkan luka pedih terasa
Harapan tinggal kenangan
Ku berjalan [...]
Puisi-Puisi Rizka Silviana Hartanti
November 22, 2006Indonesiaku
Lautan biru
Ikan menari riang
Gunung – gunung hijau
Hutan pun lebat dengan satwa
Indonesiaku tertawa
Udara semilir sejuk
Kicauan burung nan indah
Namun
tangan tak tanggungjawab
rusakkan saja semua
buat indonesiaku sedih
akankah Tuhan mengamuk
hancurkan negeri tercinta?
Wakil Rakyat
Rumah mewah tempatmu
Kursi empuk juga nyaman
Hanya tuk siksa diri
Tak sadarkah
Di jalanan, tikus usang peminta
Kalian hanya bersila santai
Janji semata
Ucapkan pada tikus tak [...]