Fajar pagi baru usai, tetes embun mulai sirna saat mentari mencoba menyibak cakrawala dengan semburat sinarnya. Ujung dedaunan dan ilalang masih menyisakan lamur. Kicauan burung yang hanya tersisa satu dua mencoba merangkai lagu pagi di bagian utara lereng Muria. Para perempuan kaki gunung mulai mengentaskan tubuh basahnya dari beku air belik. Para lelaki terhanyut menanti [...]
Archive for the 'Cerpen' Category
Telephone
Januari 14, 2008PEMULUNG DI LARANG MASUK
Januari 11, 2008Oleh: Titik Indriyana
Kuambil pakaian dinas lapanganku. Aku hanya punya dua stel. Jika yang satu dicuci, aku mengenakan yang satunya lagi. Jangan bayangkan jas dan dasi. Pakaian dinasku Cuma selembar kaos oblong lusuh pemberian sebuah partai saat musim kampanye dulu, dipadu dengan celana butut sedikit di bawah lutut.
Sebagai pengganti tas, sebuah karung goni bekas kusampir di [...]
HUJAN DAN ANGANKU
Desember 5, 2006Cerpen Rina Safitri
WAKTU baru menunjukkan pukul 2. Langit yang tadinya cerah, berubah menjadi kelabu. Angin sepoi-sepoi di susul rintikan air hujan, menetes membasahi tanah yang berdebu.
Hujan kali ini, mengganti siang yang panas menjadi sejuk. Bahkan dingin kini menjalari sekujur tubuh. Menyelinap, menusuk pori-pori. Hujan bertambah deras. Ku urungkan niatku pergi bersama teman – temanku ke [...]