Joni Setyo Utomo
Kiprahnya di dunia beladiri Tae Kwon Do memang terbilang baru. Namun prestasi putera kelahiran Kudus belasan tahun silam, ini terhitung luar biasa. Bagaimana tidak, meski baru sekitar satu tahun menggeluti dunia ini, ia sudah mendapatkan dua gelar kejuaraan.
Adalah Joni Setyo Utomo. Putera kelahiran pasangan Sutomo dan Sulasmi yang beralamat di Desa Jepang Mejobo ini, dari 2 kali pertandingannya, selalu mendapat gelar kejuaraan. Awal Maret lalu, siswa MTs. Negeri 2 Kudus ini menjadi Juara I Tae Kwon Do se Kabupaten Kudus. Tak berselang lama, ia menggondol Juara II pada perlombaan yang sama tingkat Karesidenan Pati di Rembang, April lalu.
Tak disangka, memang. Dibalik sikapnya yang pendiam, bungsu dari 3 bersaudara ini, menyimpan prestasi luar biasa yang layak mendapat dukungan dari berbagai pihak. Karena bagaimana pun, sebagai atlet, ia bukan lagi milik keluarga dan teman – temannya, tapi daerah dimana ia dilahirkan.
Apa keinginannya setelah besar? “Saya ingin menjadi Tentara agar bisa membantu Bapak dan Ibu. Saya juga ingin menjadi atlet nasional agar bisa mengharumkan nama kota Kudus,” akunya.
Lalu, bagaimana Joni dimata para Sabemnya (panggilan untuk pelatih Ta Kwon Do)? “Joni anak yang baik dan disiplin. Tiap hari ia berlatih. Sehingga meski terbilang baru, ia sudah mampu mendapatkan kejuaraan,” kata Sabem Saliyono.
Mengenai Tae Kwon Do di Kudus, menurut Sabem yang mendapatkan sertifikat dari Korea ini, masih membutuhkan banyak perhatian. Alat – alat seperti Matras, Body Protector dan Pyongyok masih kurang. Untuk itu, ia berharap orang – orang yang peduli terhadap masa depan Tae Kwon Do di Kudus seperti Sabem Suyono agar dirangkul kembali. Agar ke depan, Tae Kwon Do Kudus bisa lebih baik.
Adalah Joni Setyo Utomo. Putera kelahiran pasangan Sutomo dan Sulasmi yang beralamat di Desa Jepang Mejobo ini, dari 2 kali pertandingannya, selalu mendapat gelar kejuaraan. Awal Maret lalu, siswa MTs. Negeri 2 Kudus ini menjadi Juara I Tae Kwon Do se Kabupaten Kudus. Tak berselang lama, ia menggondol Juara II pada perlombaan yang sama tingkat Karesidenan Pati di Rembang, April lalu.
Tak disangka, memang. Dibalik sikapnya yang pendiam, bungsu dari 3 bersaudara ini, menyimpan prestasi luar biasa yang layak mendapat dukungan dari berbagai pihak. Karena bagaimana pun, sebagai atlet, ia bukan lagi milik keluarga dan teman – temannya, tapi daerah dimana ia dilahirkan.
Apa keinginannya setelah besar? “Saya ingin menjadi Tentara agar bisa membantu Bapak dan Ibu. Saya juga ingin menjadi atlet nasional agar bisa mengharumkan nama kota Kudus,” akunya.
Lalu, bagaimana Joni dimata para Sabemnya (panggilan untuk pelatih Ta Kwon Do)? “Joni anak yang baik dan disiplin. Tiap hari ia berlatih. Sehingga meski terbilang baru, ia sudah mampu mendapatkan kejuaraan,” kata Sabem Saliyono.
Mengenai Tae Kwon Do di Kudus, menurut Sabem yang mendapatkan sertifikat dari Korea ini, masih membutuhkan banyak perhatian. Alat – alat seperti Matras, Body Protector dan Pyongyok masih kurang. Untuk itu, ia berharap orang – orang yang peduli terhadap masa depan Tae Kwon Do di Kudus seperti Sabem Suyono agar dirangkul kembali. Agar ke depan, Tae Kwon Do Kudus bisa lebih baik.